Bisnis Properti dan Strategi Bisnis Pengelola Pusat Belanja Saat New Normal

Bisnis Properti dan Strategi Bisnis Pengelola Pusat Belanja Saat New Normal

Bisnis Properti dan Strategi Bisnis Pengelola Pusat Belanja Saat New Normal

Bisnis Properti dan Strategi Bisnis Pengelola Pusat Belanja Saat New Normal,- Dari 6 sektor properti yang ada, memang sektor pusat perbelanjaan menjadi salah satu sektor yang cukup besar terkena dampaknya pada saat covid.19. Padahal kita tahu potensi bisnis ini cukup besar, seperti yang di katakan Ketua Umum DPP APRINDO 2019-2023 bahwa pertumbuhan industri retail modern berada di kisaran angka 7-9%.

Sekalipun di katakan belum ideal untuk pertumbuhan seperti di Indonesia, namun menurut Roy hal itu cukup bagus di banding beberapa negara lain yang kondisinya justru minus.

Sekedar menjelaskan kondisinya, saat ini menurut Roy Nicholas Mandey memang industri retail moderen masih bisa di tingkatkan potensinya.

Karena nilainya saat ini terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di angka 10,41% dengan nilai Rp1.544 triliun dengan tingkat pertumbuhan konsumsi selama 5 tahun berada diangka 5-7%. Padahal seharunya memang kondisinya bisa diatas angka tersebut.

Pencapaian tersebut memang masih mungkin bisa di tingkatkan jika pada saat ini tidak terjadi pandemi Covid 19. Kenapa, karena dengan melihat besarnya potensi bisnis properti di mana sektor pusat perbelanjaan adalah salah satunya cukup besar.

Dengan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp251 triliun, maka sektor properti jika dibandingkan dengan 9 sektor industri lainnya besarnya hanya 6% saja. Ini adalah satu sektor yang begitu potensial jika kondisinya normal tanpa adanya pandemi covid 19.

Tetapi apa mau dikata, pandemi covid 19 telah terjadi dan menimpa hampir semua sektor industri tidak terkecuali sektor retail moderen. Sehingga dari dampak tersebut terlihat bahwa dari 6 sektor properti yang ada di Indonesia, justru pusat perbelanjaan dan perhotelan lah yang mengalami dampak paling buruk.

Buruknya atau bisa dikatakan penurunan yang cukup besar dari potensi bisnis retail modern salah satunya juga di dukung dari adanya beberapa kebijakan pemerintah yang pada akhirnya berimbas kepada sektor pusat belanja. (1) Pemerintah memberlakukan kondisi PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) .

Ini membuat masyarakat menjadi di batasi atau terbatasi dalam melakukan aktivitas di luar rumah (2) Konsep kerja yang menyesuaikan dengan kebijakan PSBB yaitu model Work From Home (WFH).

Maka hal ini juga berdampak pada penurunan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan. Karena bersamaan dengan hal itu sekolah, kampus dan aktivitas lainnya juga mesti berada di rumah karena kondisi yang ada.

Disamping beberapa hal yang telah dijelaskan diatas, jelas memang pada akhirnya dampaknya cukup terasa bagi pelaku bisnis retail yang ada di Indonesia.

Ambil contoh, dari kondisi yang ada kita bisa melihat terjadinya perubahan atau penurunan yang cukup signifikan dari beberapa hal seperti :

(1) Dari segi cars traffic ada sekitar 10-15% penurunan yang terjadi akibat covid19 (2) Sedangkan jumlah dari shoppers traffic juga mengalami penurunan yang cukup lumayan dari awalnya shoppers traffic 10% tinggal 7% saja saat ini (3) kemudian menyangkut tingkat hunian pusat perbelanjaan yang juga mengalami penurunan hampir disemua mall sekitar 10-11%.

Sehigga ini mengindikasikan bahwa memang kondisi covdi 19 cukup memberikan dampak negatif bagi industri retail moderen.

Meskipun berdampak penurunan di beberapa point yang berhubungan langsung dengan bisnis pusat perbelanjaan. Namun menariknya untuk bisnis retail ini kondisinya masih bisa tertolong dengan adanya peningkatan dari sisi transaksi yang bersumber dari bisnis E Commerce.

Dimana jika kita lihat dari kondisi yang ada hal itu memang berasal dari perubahan tren yang terjadi pada bisnis retail modern di Indonesia Login Joker123.

Dari data yang ada, kita bisa melihat kondisi yang ada saat ini di kaitkan tren yang terjadi di Indonesia. Saat ini negara Indonesia sebagai negara dengan pengguna Internet urutan 6 besar di dunia dan mampu mengalahkan negara seperti Jepang dan Rusia .

Besarannya sekitar 65% dari jumlah penduduk Indonesia 267 juta jiwa. Pengaruhnya apa, jelas dengan besarnya tingkat pengguna internet tersebut, maka pola aktivitas warga masyarakatnya juga menjadi berubah.

Dimana saat ini mereka lebih suka dengan aktivitas swafoto, online shopping, e-commerce, e-tailing, social media. Lebih dari itu, mereka selalu menggunakan mobile device, gadget, laptop adalah sebagai bentuk dari perubahan tren yang mempengaruhi culture changes.

Wajar pada akhirnya dengan adanya pandemi covid 19, tingkat transaksi yang menggunakan model E Commerce meningkat di banding sebelum covid 19. Sehingga pada akhirnya pelaku bisnis juga mesti menyesuaikan kondisi yang ada dengan menggunakan beberapa channel khusus dengan tujuan untuk memaksimalkan kepuasan konsumen. Beragam cara dilakukan oleh pelaku bisnis seperti misalnya : istilah seamless shopping experience dari mulai toko fisik standalone, SMS, email, website, aplikasi mobile device, media sosial, public messenger, geo-targeting, sampai dengan pusat-pusat perbelanjaan (mall).)

Kini pelaku bisnis retail atau pengelola pusat belanja sedang bersiap untuk memasuki Era New Normal. Dimana ketika kondisi ini di Jalankan ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian mereka terutama menyangkut 7 Protokol Kesehatan yang mesti di patuhi :

(1) Pelaku bisnis wajib menggunakan masker, face shield dan sarung tangan ketika proses aktivitas New Normal masih berlangsung

(2) Pelaku bisnis harus secara berkala di tes sehingga negatif terhadap covid 19

(3) Pelaku bisnis mesti memperhatikan agar tidak terjadi antrean di toko atau gerai dalam jumlah yang banyak. Karena ketentuannya hanya boleh untuk 10 orang dengan jarak aman 1,5 meter

(4) Pelaku bisnis harus selalu menyediakan atau melakukan disinfeksi sehingga benar-benar aman dan nyaman

(5) Pelaku bisnis atau para penjual yang berada di gerai wajib menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan dalam melayani konsumen

(6) Para pengunjung pasar, toko swalayan atau mall dibatasi jumlahnya agar bisa sesuai dengan ketentuan jumlah pengunjung yang ada

(7) Pengunjung pusat belanja, agar selalu memperhatikan kesehatan dengan cara mencuci tangan di pintu masuk.

Dengan melihat kondisi yang terjadi, dengan menyesuaikan protokol kesehatan yang mesti di jalankan. Maka strategi yang mesti di jalankan oleh pelaku bisnis adalah sebagai berikut :

(1) Sebaiknya melakukan pengubahan strategi bisnis agar bisa sesuai dengan kondisi yang ada. Salah satunya dengan melakukan optimalisasi kekuatan pembeli yang bersedia untuk melakukan transaksi by online. Implementasinya dengan membuat platform yang langsung berhubungan dengan bisnis mereka seperti misalnya konsep Virtual Mall ( integrasi dari bisnis online dan offline serta offline dan online).

(2) Dari sisi pengelola mall ada baiknya mulai melakukan perubahan dalam hal restrukturisasi sistem dalam pengelolaan database mallnya. Hal itu menjadi penying terutama pada saatnya nanti mereka mesti melakukan strategi bisnis dengan model virtual mall.

(3) karena kita tahu saat ini adalah eranya Property Technology, maka sebaiknya pelaku bisnis juga mesti mulai akrab dengan istilah sistem IT. Karena sistem ini bisa memaksimalkan potensi bisnis yang di kembangkan oleh pelaku bisnis pada saat pengelolaan mall.

Kembali bicara soal covid 19 dan terjadinya perubahan tren belanja dari sisi konsumen. Tercatat memang potensi bisnis E Commerce yang ada di Indonesia nilainya cukup besar. Sekedar informasi saja pada tahun 2014 saja nilainya sudah mencapai US$1,1 miliar. Dan prediksinya di tahun 2020 ini nilainya melonjak cukup tinggi menjadi Rp 1.850 triliun potensi bisnis E Commerce di Indonesia.

sumber : ekonomibisnis.com

Dengan melihat besarnya potensi yang ada, dan mulai di berlakukannya konsep New Normal yang di dasarkan pada Protokol Kesehatan di Pusat Perbelanjaan, maka ada baiknya salah satu strategi kedepan tidak saja pengelola mall tetapi juga tenant mal harus bersiap untuk mencoba mengoptimalkan bisnis dengan model transaksi E Commerce atau bisnis online.

Karena jika saat ini saja banyak pemain bisnis online yang tidak memiliki gerai. Maka akan menjadi satu keuntungan jika pemilik gerai pun menggunakan sistem online dalam berjualan.

Untuk memahami lebih jauh seperti apa bisnis E- Commerce maka berikut kami coba sampaikan 3 hal penting dari komponen bisnis E Commerce :

(1) Transaksi bisnis E Commerce berkonsep C2C

(Consumer to Consumer) : Yaitu sebuah bisnis yang pelakunya adalah dari konsumen ke konsumen bisa juga di istilahkan barter bisnis.

(2) Transaksi bisnis E Commerce berkonsep B2C

( Businees to Consumer ) : Gambaran nyata dari konsep ini bisa di lihat dari model bisnis Toko atau Gerai online.

(3) Transaksi bisnis E Commerce berkonsep B2B

( Business to Business ) : Konsep bisnis seperti ini seperti yang sudah terjadi kebanyakan adalah bisnis yang terjadi diantara pelaku bisnis itu sendiri.

sumber: barantum

Mengingat masa berlakunya Era New Normal sudah di depan mata, maka pengelola mall, tenant mall sudah sewajarnya harus mulai memahami dan mencoba mengikuti tren yang saat ini terjadi dalam bisnis retail moderen. Tetapi agar semuanya bisa berjalan dengan lancar, ada beberapa persyaratan yang mesti di penuhi terlebih dahulu :

  • Sebaiknya inovasi bisnis dijalankan dengan mengakomodir model bisnis E commerce. Sehingga konsep bisnis Online dan Offlain bisa di kombinasikan dengan baik.
  • Perlunya melakukan pengubahan strategi dalam manajemen mall, tentunya dengan mengimplementasikan sistem IT . Dimana salah satu sistem IT yang bisa di gunakan awal oleh pelaku bisnis mall dan tenant mall adalah CRM ( Customer Relationship Management). Teknologi ini pada masa Era New Normal bisa memberikan kontribusi yang cukup maksimal.Tidak saja karena bisa di gunakan oleh sales, SPG, hingga manajemen pengelola mall yang bersangkutan.
  • Dan pada akhirnya jika nantinya CRM ini di implementasikan pada manajemen pengelola mall. Maka beberapa point penting yang bisa di dapat mall adalah : dapat di gunakan untuk melakukan restrukturisasi sistem dan tata kelola manajemen data yang awalnya masih bersifat tradisional menjadi moderen. Baru setelah itu aplikasi CRM bisa di gunakan untuk optimalisasi kerja karyawan di lingkungan pengelola mall. Karena bukan tidak mungkin kedepan sistem CRM ini bisa menjadi sistem yang melengkapi model bisnis mall yang bersifat online dan offline.
Comments are closed.